SEGERAM AWAL PERADABAN ISLAM DI NATUNA

segeram, islam, natuna


Berikut kami akan menceritakan kisah tentang awal peradaban dan masuknya Islam ke Natuna yang didapat dari tokoh Segeram yang kami wawancarai.

Awal mula pulau bunguran besar merupakan suatu pulau kosong tanpa penghuni, dimana dahulu pulau bunguran besar ini bernama pulau serindit. Serindit sendiri dinamai orang seorang yang bernama Demang Megat, lalu siapa itu Demang Megat? Siapa itu engku Fatimah?  Lalu apa hubungannya dengan peradaban Islam di Natuna ini?

Dahulu kala terjadi banjir besar disuatu tempat yang bernama Sankasam di Thailand, hanyutlah seorang yang bernama Demang Megat. Dan terdampar disuatu pulau tanpa penghuni sehingga ia bingung apa gerangan nama pulau tersebut, kemudian ia melihat seekor burung yang berbunyi "cit citt citt" sehingga ia menamai pulau tersebut sebagai pulau serindit. Di keseharian hidupnya ia tinggal di sebuah pohon besar yang bernama balau silak, dan hanya memakan madu sehingga tumbuhlah bulu-bulu lebat disekujur badannya.

Disisi lain, ada suatu kerajaan bernama kerajaan johor, menurut kisahnya pada masa pemerintahan Sultan Allauddin Riayat Syah mempunyai seorang putri bernama Teungku Fatimah (Engku Fatimah) namun malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, Engku Fatimah sejak kecilnya lumpuh dan tidak bisa berjalan. Oleh karena itu, Sultan Johor itu merasa malu dengan kondisi anaknya dengan Sultan-Sultan dari kerajaan yang lain sehingga ia mengambil keputusan untuk menempatkan putrinya itu disebuah pulau kosong bernama Pulau Serindit.

Dalam perjalanannya ke Pulau Serindit, Engku Fatimah konon katanya dikawal oleh tujuh penjajap yang tak kasat mata dan para mentri-mentrinya yang berjumlah kurang lebih 40 orang. untuk membuat sebuah kerajaan Tuan Putri haruslah mempunyai seorang suami sehingga harus ada salah seorang dari mentri-mentri tersebut menikah dengannya, tetapi anehnya setiap kali setelah menikah dan akan melakukan ritual malam pertama mereka semua meninggal dunia, sehingga berhentilah niat para rombongan untuk menikahkan Tuan Putri untuk sementara waktu.

Pelayarannya kembali dilanjutkan, hingga sampailah ia ke tembelan, letung, siantan, midai, dan terakhir di sedanau tetapi pulau-pulau tersebut sudah berpenghuni semua. Kemudian ia kembali melanjutkan pelayarannya untuk mencari pulau kosong, hingga sampailah ke suatu muara dengam melihat sebuah muara tadi timbullah di dalam hatinya berkata "betapa geram hati beta untuk mendirikan sebuah kerajaan di tempat ini".




Setelah sampai disana, kembali para rombongan berniat untuk menikahkan Tuan Putri Engku Fatimah karena syarat untuk membangun sebuah kerajaan adalah haruslah memiliki suami untuk dirajakan, tetapi semua mentri yang berjumlah 40 orang tadi sudah meninggal semua, sehingga timbullah inisiatif para rombongan untuk mengadakan sebuah sayembara barang siapa mau menikah dengan Tuan Putri akan dirajakan, hingga kabar tersebut terdengar oleh Demang Megat yang memang telah lama menanti orang yang datang di pulau tersebut, tak berfikir panjang ia langsung terjun dari pohon tempat ia tinggal dan menuju ke Tuan Putri untuk bersedia menikah dengannya. Tetapi peristiwa aneh seperti yang dialami oleh 40 mentri tidak terjadi kepada Demang Megat hingga menikahlah ia dengan Engku Fatimah dan memiliki beberapa orang anak, dan ia diberi julukan dengan nama Demang Megat Dina Mahkota.

Hari berganti hari, pernikahan mereka memiliki dua orang anak sehingga Demang Megat pun berfikir untuk memperluas kekuasaan dengan membuka kerajaan baru lagi di Binjai sebagai pusat ibu kota karena di Segeram sudah ada anaknya, dan anaknya yang kedua sudah membuka kerajaan baru lagi di Senibung.

Setelah berhasil membuka kerajaan di Binjai sebagai pusat ibu kota, Tengku Fatimah teringat dan rindu kepada ayahandanya sehingga perlulah mengirim utusan membawa hadiah berupa emas, karena di daerahnya berkuasa yaitu Serindit kaya akan emasnya, tetapi ia tidak mengetahui bahwasanya sang ayah sudah meninggal dunia dan disana sudah berganti dengan sultan yang baru. Setelah utusan mereka tiba disana, oleh sultan baru malaka utusan dari Tengku Fatimah ini kepalanya digunduli karena menurutnya hadiah yang diberikan ini sebagai umpeti.

Setelah peristiwa ini diketahui oleh Tengku Fatimah dan suaminya Demang Megat, Demang Megat pun merasa sangat marah dan menganggap ini sebagai suatu penghinaan oleh mertuanya, saking marahnya ia pun berlari sekencang-kencangnya melewati hutan balatara kemudian sang istri yang awalnya lumpuh, secara tak terduga bisa berlari mengejar suaminya seraya berkata "kakanda... kakanda tunggu" tetapi ia tidak bisa mengejar sang suaminya tersebut, setelah beberapa hari Demang Megat hilang, tiba-tiba di Binjai muncul sebuah batu yang disusun layaknya sebuah makam, oleh masyarakat sekitar dipercaya sebagai jelmaan dari Demang Megat.


Kisah ini benar adanya dengan data berupa wawancara dengan tokoh Segeram.

0 Response to "SEGERAM AWAL PERADABAN ISLAM DI NATUNA"

Post a Comment

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik pembahasan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel