JELAJAH RAMADHAN : TAPAK TILAS MASUKNYA ISLAM KE NATUNA

segeram, natuna, sejarah masuknya islam


Segeram merupakan kampung tua yang memiliki nilai sejarah serta terdapat cerita dibaliknya yang jarang diketahui setiap orang. Pulau Bunguran besar ini awalnya merupakan pulau kosong tanpa penghuni dan Segeram sendiri merupakan titik awal peradaban Islam di Natuna.

Pada bulan suci Ramadhan 1440 H, kami dari organisasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK)  Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)  Natuna mempunyai satu program yang kami beri nama Jelajah Ramadhan, inti dari program ini adalah untuk mengetahui tapak tilas masuknya Islam di Natuna. Segeram adalah tempat kedua yang kami kunjungi setelah Binjai.

Pada hari itu, kami berangkat dari rumah masing-masing dan berkumpul di kediaman pembina LDK yaitu Bapak H. Umar Natuna, pada saat rapat kami sepakat untuk berkumpul pada pukul 05:30 WIB agar bisa berangkat lebih awal sekitar pukul 06:00 WIB karena tujuan kami kali ini terbilang cukup jauh dan memakan banyak waktu, apalagi pada saat itu dalam keadaan berpuasa bulan suci Ramadhan sehingga dikhawatirkan terpapar panas sinar matahari yang dapat membuat "pecah periuk" istilah yang sering dipakai di Natuna yaitu batalnya puasa karena suatu dan lain hal. :D

Namanya juga di Indonesia, janji tinggallah janji, kesepakatam awal jam 05:30 WIB sudah berada di tempat tetapi masih juga jam 07:00 WIB baru berangkat dari kediaman bapak pembina menuju ke Segeram. Ditengah perjalanan, ehh... Ternyata masih ada sayur yang kami beli sebagai perbendaharaan berbuka puasa bersama di sana ternyata tertinggal di rumah pak pembina, terpaksa kami memutar balik untuk mengambilnya kembali, dengan tergopoh-gopoh truk tua berbalik kebelakang, kami menggunakan truk ke sana karena kalau menggunakan bis dikhawatirkan terguling dan resiko tewasnya sangat besar, karena akses kesana sangat sulit dengan medan yang cukup ngeri layaknya panjat tebing.:D

OTW


Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya kami tiba di simpang menuju ke Segeram. Jika dilihat dari kejauhan bukan seperti jalan tetapi hutan balantara yang terlihat sangat angker, dengan tekad yang bulat untuk sampai ke sana, kami pun meneguhkan hati apalagi sopir yang kami bawa ini cukup profesional yang kami impor dari London. (becanda :D) tetapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, sebenarnya tujuan memakai truk selain agar mengurangi resiko tetapi juga untuk menghindari mabuk perjalanan agar puasa tetap terjaga, ehh ternyata masih ada salah satu dari anggota LDK yang pecah periuk sehingga dengan terpaksa membatalkan puasa, ternyata tidak satu orang, ada dua orang lainnya yang lemah tidak berdaya dan yang satu lagi tidak tertahan untuk buang air besar saking mualnya :D

Setelah beberapa jam kemudian, kami pun tiba di Segeram terlihat gerbang dari jauh bertuliskan "selamat datang di kampung tua segeram" yang tampaknya memang sudah dipersiapkan untuk menyambut kami (pede :D), kami turun beristirahat sejenak posko mahasiswa KKN, kemudian pada siang harinya kami menjelajahi makam-makam tua yang ada di Segeram, ada tiga makam yang kami jelajahi dengan kondisinya terlihat kurang terawat, terlepas daripada itu tampak ukiran-ukiran yang khas pada makam itu dengan bebatuan pilihan yang sangat tua usianya, namun sayangnya tidak diketahui dengan pasti siapa sosok tokoh dibalik makam tersebut.


Menelusuri Makam Tua

Namun ada satu makam yang tidak sempat untuk kami kunjungi, karena jarak yang cukup jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki yaitu makam yang menurut warga dan narasumber yang kami wawancarai dipercaya sebagai makam Tengku Fatimah. Timbul pertanyaan siapa itu Tengku Fatimah? Dan apa hubungannya dengan tokoh yang sangat terkenal yaitu sosok Demang Megat yang kami ketahui sebelumnya di Binjai? Inilah yang menjadi salah satu topik wawancara kami dengan tokoh masyarakat Segeram sepulang dari menjelajahi makam-makam tersebut.

Sesuai yang kami katakan tadi, setelah pulang dari menjelajahi makam-makam tua itu kami pun mewawancarai tokoh masyarakat yang ada di Segeram yaitu bapak Siqik. Hal pertama yang kami tanyakan adalah awal mula kenapa disebut dengan Segeram, lalu beliau pun menceritakannya dengan panjang lebar, hingga suatu kesimpulan dimana Segeram sendiri diambil dari perkataan Tengku Fatimah dalam hatinya, karena melewati sebuah muara kemudian melihat suatu tempat yang membuat hatinya tergugah untuk membangun kerajaan, dimana hatinya berkata "alangkah geramnya hati beta untuk membangun kerajaan disini". Menurut tokoh yang kami wawancarai, dari sinilah kenapa disebut dengan segeram karena Tengku Fatimah geram atau gemas untuk membangun sebuah kerajaan melihat daerah yang begitu elok dan strategis tersebut. Namun yang beliau utarakan sedikit berbeda dengan tokoh yang kami wawancarai di Binjai sebelumnya, dimana Segeram menurut beliau diambil dari cerita dimana pembagian harta warisan, hingga yang jumlahnya hanya segeram mau diungkit juga sehingga menjadi sengketa kemudian berkelahilah antara kakak dan adik gara-gara memperebutkan yang jumlahnya hanya segeram itu.

Tokoh Segeram : Bapak Sidik

Kemudian setelah selesai pertanyaan pertama, kami pun melanjutkan dengan pertanyaan kedua yaitu siapa sebenarnya tokoh dibalik Segeram ini. Lalu beliau menerangkan bahwa Segeram dan pulau bunguran awalnya merupakan pulau kosong, hingga suatu hari hanyutlah seorang yang bernama Demang Megat dan terdampar di Segeram, hingga suatu saat kemudian ia bertemu dengan Tengku Fatimah dari kerajaan Malaka, bagaimana kisah pertemuan mereka nanti bisa dibaca dicerita selengkapnya dibawah.

Baca Juga : SEGERAM AWAL PERADABAN ISLAM DI NATUNA

Lanjut pertanyaan berikutnya yaitu siapa sosok dibalik keramat Binjai yang terkenal itu, beliau menuturkan bahwa sosok dibalik keramat Binjai adalah Demang Megat sendiri, karena ia berlari dan menghilang begitu saja baru beberapa hari kemudian muncullah keramat Binjai yang dipercaya oleh masyarakat serta alim ulama sekitar sebagai jelmaan dari Demang Megat. Tetapi menurut tokoh yang di Binjai, keramat binjai bukan sebuah makam tetapi tempat bersemedi Syekh Ahmad Kamil Basah, salah seorang pendakwah dari keturunan Arab.

Terlepas dari banyaknya versi dan cerita dibalik itu, beliau melanjutkan awal adanya Ranai dan masuknya Islam di Natuna adalah dari Segeram, pada awalnya Demang Megat merupakan seorang yang menganut agama Buddha kemudian setelah datangnya Tengku Fatimah kemudian ia menjadi mualaf karena akan dinikahkan dengan Tengku Fatimah untuk dirajakan.


Setelah selesai mencari informasi dari tokoh yang kami wawancarai kami pun pulang untuk beristirahat karena badan terasa remuk saking capeknya, sebenarnya masih ada seorang narasumber lagi yang ingin kami wawancarai tapi apalah daya tangan tak sampai karena setelah shalat ashar si pewawancara tertidur dan bangun hampir adzan maghrib :D 

Akhirnya tidak cukup waktu lagi untuk mewawancari seorang tokoh lagi. Kemudian singkat cerita, adzan maghrib berkumandang dan kami pun berbuka bersama dengan masyarakat Segeram, betapa lahapnya kami berbuka pada saat itu karena indomie dan sayur yang kami bawa, oleh masyarakat Segeram disulap menjadi kepiting yang begitu lezat rasanya.  Kemudian shalat tarawih di Masjid yang ada disana, setelah tarawih kami lanjutkan dengan satu kegiatan yang kami paketkan dengan Jelajah Ramadhan yaitu Safari Ramadhan dimana M. Toha Serpika salah satu anggota LDK sebagai penceramahnya.

Foto Bersama Masyarakat Segeram

Waktu begitu cepat rasanya berputar, hingga esok harinya kami pun pulang dan membawa begitu banyak pengalaman serta cerita yang dapat diceritakan dalam tulisan ini semoga dapat menjadi bahan bacaan yang edukatif, bahwasanya kita perlu untuk mengetahui sejarah terlebih sejarah tentang masuknya Islam didaerah yang kita cintai ini yaitu Natuna.

0 Response to "JELAJAH RAMADHAN : TAPAK TILAS MASUKNYA ISLAM KE NATUNA"

Post a Comment

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik pembahasan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel