RANGKUMAN ALUR CERITA DEWA MENDU DALAM BUKU "HIKAYAT DEWA MENDU" KARYA SAMSUL HILAL

Negeri Antapura (Dewa Mendu diangkat Raja Muda)
Berkisah dua orang pemuda yang bernama Dewa Mendu dan Angkara Dewa turun ke dunia, konon mereka merupakan pemuda dari kayangan yang memiliki Ayahanda bernama Semandung Dewa. Mereka turun secara terpisah, pada awalnya Dewa Mendu yang turun dahulu baru kemudian Angkara Dewa, awalnya mereka tidak saling mengenal dan sempat bertarung antar keduanya hingga mendapatkan sahabat yaitu Jin Nenek Sejinggi dan Jin Maragas.
Kemudian di lain kesempatan, Sri Mahraja Langkadura yang memerintah Kerajaan Anta Pura sedang mengalami kesedihan karena Puterinya Siti Mahdewi yang cantik jelita yang dengan kemolekannya mampu membius lelaki yang melihatnya harus disihir menjadi seekor gajah putih oleh Sri Mahraja Laksemalik dari Kerajaan Anta Syina. Hal itu dilakukan oleh Sri Mahraja Laksemalik karena merasa sakit hati pinangannya ditolak oleh Sri Mahraja Langkadura.
Sri Mahraja Langkadura menolak pinangan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan karena sifat Sri Mahraja Laksemalik yang tamak serta adanya perbedaan agama di antara mereka berdua.
Singkat cerita, setelah melihat sang Puterinya disihir menjadi seekor gajah putih sehingga ia merasa tidak tega sang puteri dicemooh sehingga memerintahkan Pahlawannya untuk membunuhnya. Namun walaupun begitu, sang Pahlawan pun tak tega untuk membunuhnya, sehingga membiarkan begitu saja sang Puteri hidup ditengah hutan.
Puteri Siti Mahdewi sangat kesepian dan sendiri di dalam hutan, meratapi nasibnya. Singkat cerita kemudian Dewa Mendu dan Angkara Dewa tak sengaja melewati hutan yang sama, betapa terkejutnya mereka melihat gajah putih yang bisa berbicara, dengan kesaktian yang dimiliki oleh Dewa Mendu maka Puteri Siti Mahdewi pun berhasil disembukan menjadi manusia seperti sedia kala. Dewa Mendu dan Angkara Dewa begitu terkejut melihat kecantikan sang Putri.
Sang Puteri Siti Mahdewi mengajak mereka pergi ke kerajaan Anta Pura untuk menemui ayahandanya, setelah sampai di kerajaan betapa bahagianya sang Ayahanda melihat Puterinya sudah sembuh, sehingga berniat menikahkan mereka berdua yaitu Dewa Mendu dengan Siti Mahdewi, setelah menikah Dewa Mendu pun diangkat menjadi Raja Muda.
Diculiknya Puteri Siti Mahdewi
Dengan dinikahkannya Dewa Mendu dengan Siti Mahdewi maka bertambah murkalah Sri Mahraja Laksemalik, ia kembali memerintahkan Sahabatnya yang bernama Jin Kepala Tujuh untuk membuang Dewa Mendu dan Angkara Dewa ke Laut Qalsum serta menculik Siti Mahdewi, Jin Kepala Tujuh tersebut berhasil melempar Dewa Mendu dan Angkara Dewa ke laut Qalsum kemudian membawa Siti Mahdewi dengan tali yang diikat karena Siti Mahdewi tidak mau ikut jikalau harus bergandengan dengan Naga Kepala Tujuh sebab dia takut dengan Jin tersebut.
Di tengah perjalanan Siti Mahdewi berhasil lepas dari tali tersebut sehingga kabur ke hutan belantara yang ia sendiri pun tak tahu dimana, ditambah lagi ia tengah mengandung. Ia sangat menyesal karena tidak mendengarkan larangan sang Ayahandanya untuk tidak bermain di taman bunga, karena disanalah ia berhasil diculik oleh Jin Naga Kepala Tujuh.
Di lain tempat, Dewa Mendu dan Angkara Dewa terombang ambing di tengah laut Qalsum tidak sadarkan diri, kemudian mereka berhasil diselamatkan oleh sahabat mereka yaitu Jin Nenek Sejinggi dan Jin Maragas. Betapa bahagianya mereka mendapatkan sahabat yang sangat setia, tetapi ia heran dengan kain yang melekat dibadannya darimana kain itu berasal. Kemudian Jin Maragas mengatakan bahwasanya kain itu diambilnya di sebuah Mahligai kerajaan.
Negeri Thursyina (Pernikahan Dewa Mendu dan Putri Nela Rena)
Mendengar hal tersebut, maka berangkatlah Dewa Mendu dan Angkara Dewa ke Mahligai kerajaan tersebut yang mana kerajaan itu bernama Kerajaan Thursyina yang dipimpin oleh Raja Majusi. Setelah sampai di kerajaan tersebut, Dewa Mendu dan Angkara mengubah wujud mereka menjadi seekor burung untuk memudahkan masuk ke kerajaan, sebelum berhasil masuk mereka melakukan sayembara jikalau siapa yang ditangkap oleh Putri Nela Rena yang berada di dalam kerajaan tersebut maka dialah yang boleh menikah dengan sang Putri. Kemudian setelah berhasil masuk ke Istana, suasana yang tenang tiba-tiba riuh karena sang Puteri beserta dayang-dayangnya dikejutkan dengan dua ekor burung yang mana mereka adalah Dewa Mendu dan Angkara Dewa, kemudian Puteri Nela Rena pun berhasil menangkap burung yang berwarna hijau dimana ia adalah Dewa Mendu, betapa terkejutnya Sang Puteri karena burung yang ditangkapnya berubah menjadi pemuda yang gagah perkasa.
Setelah beberapa hari mereka bersama di dalam kerajaan, Raja Majusi melihat ada benih-benih cinta di antara mereka berdua oleh karenanya Raja Majusi pun menikahkan puterinya dengan Dewa Mendu. Gawai pun dilaksanakan selama empat puluh hari empat puluh malam lamanya.
Lahirnya Kilan Cahaya (Misi Mencari Sang Ayahanda)
Dilain tempat, Siti Mahdewi yang berada di dalam hutan sudah melahirkan anak yang bernama Kilan Cahaya, mereka tidak hanya berdua saja, mereka ditemani oleh tiga Dewa juga yang memang diutus untuk menjaga mereka berdua. Kemudian setelah beranjak dewasa, Kilan Cahaya ingin mengetahui asal usul ayahandanya, serta ingin mencari yang ayah juga. Siti Mahdewi tidak kuasa melarangnya sehingga ia mengizinkan anaknya untuk mencari ayanda tercinta.
Setelah bekal dikira cukup, maka berangkatlah Kilan Cahaya untuk mencari sang ayah yang entah dimana, kemudian ia pergi ke sebuah perkampungan. Karena ia belum biasa untuk berinteraksi dengan orang maka ia pun membuat keributan dengan orang-orang tersebut namun tak satupun yang bisa menandingi kehebatannya dalam bertarung.
Sehingga kabar tersebut terdengar oleh Dewa Mendu lalu berangkatlah ia untuk menemui anak muda tersebut dimana ia belum mengetahui bahwasanya Kilan Cahaya adalah anaknya. Setelah sampai disana, ia melihat Kilan Cahaya kemudian bertarung dengannya, pertarungan berjalan sengit hingga tidak nampak ada yang kalah di antara mereka berdua. Kemudian berkatalah Kilan Cahaya:
“Jika sesungguhnya apa yang dikabarkan oleh ibundaku Siti Mahadewi bahwa aku adalah putra Dewa Mendu dan cucu dari Semandung Dewa yang ada dikayangan, maka….”
Belum selesai Kilan Cahaya membangkitkan asal usulnya, dilihatnya Raja Muda sudah tertegun dan lemas, ia terhenyak dan tertunduk. Begitu mendengar nama putri Siti Mahadewi ingatannya kembali pulih. Semua peristiwa yang pernah dilalui bermunculan kembali dalam ingatannya. Kini ia benar-benar terpukul dengan apa yang sudah dialaminya.
Kilan Cahaya pun diajaknya ke kerajaan dan menceritakan semuanya kepada Putri Nila Rena kejadian yang dialaminya. Betapa terkejutnya Puteri Nila Rena mengetahui bahwa dirinya telah dimadu, namun ia pasrah akan takdir yang dialaminya. Kilan Cahaya pun ikut merasa sedih dan menyalahkan dirinya, kemudian Puteri Nila Rena menghibur. “Janganlah berkata demikian. Sesungguhnya kita tak bisa melawan takdir. Seandainya ibunda telah berkeluarga, ibunda pasti tidak akan merebut ayahandamu dari tangan ibundamu.”
Setelah semuanya baik-baik saja maka mereka pun menemui Siti Mahdewi untuk menjemputnya dan menjelaskan tentang semua yang telah terjadi, setelah berjumpa dengan Siti Mahdewi awalnya suasana begitu tegang serta ada api kecemburuan dari Siti Mahdewi, tetapi Dewa Mendu, Puteri Nila Rena dan Kilan Cahaya mampu menjelaskan semuanya dengan baik sehingga tidak ada lagi kesalahpahaman, mereka pun menerima atas takdir yang terjadi. Melihat semua baik-baik saja maka Kilan Cahaya meminta izin untuk tinggal di hutan.
Raja Firmansyah (Permaisuri dan Buah Pelam Tangkai Embun)
Di lain tempat, Baginda Raja Firmansyah sedang dilanda kebingungan karena sang permaisuri tengah hamil dan mengidam buah pelam tangkai embun, namun buah tersebut hanya ada di Kerajaan Beruk yang dipimpin oleh Raja Beruk. Kemudian mau tidak mau ia harus datang untuk meminta buah tersebut, setelah persiapan siap maka berangkatlah Raja Firmansyah beserta permaisuri dan para pahlawan istana ke hutan untuk menemui Raja Beruk. Setelah sampai, Raja Beruk bersedia untuk menyerahkan buah pelam tangkai embun asalkan setelah nanti anak mereka lahir maka harus diberikan kepadanya, Raja Firmansyah beserta permaisuri tidak punya pilihan lain melainkan harus menerima perjanjian tersebut.
Kemudian waktu silih berganti, bahagia mereka lewati bersama puteri mereka yang sudah lahir kini tumbuh dewasa menjadi seorang puteri yang cantik jelita yang diberi nama Puteri Mayang Mengurai, dan janji pun harus ditepati namun sang permaisuri tidak mau menyerahkan anak sematawayangnya, namun Raja Firmansyah berkata :“Bagi kanda marwah negeri ini harus dijunjung tinggi, janji adalah hutang yang harus dilunasi. Untuk semua ini kanda sudah bertekad adat resam harus ditegakkan bak kata pepatah, biar mati anak asal jangan mati adat.”
Misi Penyelamatan Sang Puteri Mayang Mengurai
Setelah puteri yang mereka sayangi itu diserahkan kepada Raja Beruk, maka sang permaisuri pun menjadi sangat sedih sampai tidak mau makan membuat ia menjadi sakit-sakitan, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun sang Raja Firmansyah pun tak tahan dengan keadaan sang permaisuri sehingga ia membuat sayembara barang siapa yang bisa merebut Puteri Mayang Mengurai dari Raja Beruk, jika ia perempuan maka akan diangkat sebagai saudara apabila ia laki-laki maka ia akan dinikahkan dengan puterinya yang cantik jelita.
Mendengar hal itu, maka Datuk Baginda Alam terperingah gembira sehingga ia menyanggupi sayembara tersebut, maka bergegaslah ia ke hutan untuk menjemput Puteri, ditengah hutan ia bertemu dengan Kilan Cahaya kemudian Datuk Baginda Alam pun ingin memanfaatkan Kilan Cahaya untuk merebut sang Puteri karena sebenarnya ia pun takut dengan pasukan-pasukan beruk dari Kerajaan Beruk.
Kilan Cahaya dengan sikap polosnya berhasil merebut sang Puteri dengan kesaktiannya yang mampu membuat pasukan kerajaan beruk semuanya tertidur, kemudian setelah tuan Puteri ia dapatkan, maka datanglah Datuk Baginda Alam yang memang bersembunyi karena ketakutan, ditengah perjalanan Kilan Cahaya dijebak oleh Datuk Baginda Alam sehingga jatuh di sebuah jurang. Setelah sampai di kerajaan Firman, dihadapan Raja Firmansyah ia mengaku bahwa ialah yang menyelamatkan tuan Puteri, sehingga membuat sang raja akan menikahkan ia dengan Puteri Mayang Mengurai.
Persiapan gawai disiapkan, namun sang Puteri sebenarnya belum mengetahui rencana istana untuk menikahkan ia dengan Datuk Baginda Alam. Setelah mengetahui hal tersebut betapa sedihnya sang Puteri sehingga ia murung diri dikamar, kemudian tak tahan dengan kenyataan maka ia menceritakan semuanya kepada Ayahandanya Raja Firmansyah.
Setelah mendengar hal tersebut betapa marahnya Raja Firmansyah sehingga ia menghukum mati Datuk Baginda Alam. Hari berganti hari betapa bahagianya Puteri Mayang Mengurai melihat Kilan Cahaya berada di hadapannya dan selamat dari jurang tersebut. Sehingga ia dinikahkan dengan Kilan Cahaya, namum harus menunggu keluarga Kilan Cahaya yaitu Dewa Mendu, Siti Mahdewi, dan yang lainnya. setelah mereka menikah, mereka kemudian dikejutkan dengan kabar bahwa Negeri Anta Pura diserang oleh Raja Laksemalik.
Bersatunya Negeri Thursyina dan Negeri Firman Melawan Raja Laksemalik
Kerajaan Thursyina dan Kerajaan Firman pun bersatu untuk mengalahkan Kerajaan Anta Syina yang dipimpin oleh Raja Laksemalik, kerajaan Anta Syina tak mampu melawan sehingga mereka kalah, Raja Laksemalik pun dihukum mati karena semua kejahatan yang ia lakukan. Sebelum dihukum mati, ia meminta untuk menyelamatkan Puteri Raja Bakhairani yang bernama Puteri Khairani dari Kerajaan Ikhwani yang diculik oleh Jin Kepala Tujuh karena untuk menggantikan Siti Mahdewi yang ia culik waktu itu.
Kerajaan Ikhwani dan Kembaalinya Dewa Mendu ke Kayangan
Maka datanglah Angkara Dewa untuk menjemput Puteri Khairani dengan selamat sehingga ia pun dinikahkan oleh Raja Bakhairani dan menjadi Raja di Kerajaan Ikhwani menggantikan Raja Bakhairani. Setelah semua telah aman, Dewa Mendu mengambil keputusan untuk pulang ke kayangan untuk menemui sang ayahnya yaitu Semandung Dewa dan berjanji akan turun kembali ke dunia.




0 Response to "RANGKUMAN ALUR CERITA DEWA MENDU DALAM BUKU "HIKAYAT DEWA MENDU" KARYA SAMSUL HILAL"
Post a Comment
Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik pembahasan